,         
Selasa, 15 Mei 2012 - 16:45:05 WIB

PENTINGNYA BERJAMAAH

Kategori : Opini

 

Oleh : Moh. Safrudin, S.Ag, M.PdI

 

(Aktivis Gerakan Pemuda Ansor Sultra Pengasuh Acara Sinar RRI Kendari)

 

Sejak permulaan perintah shalat diturunkan, Rasulullah saw telah para sahabatnya untuk shalat berjamaah. Para sahabat pun dengan sungguh-sungguh mengupayakan agar mereka tidak pernah ketinggalan kesempatan berjamaah bersama Rasulullah saw sebab banyak hikmah yang didapat dari shalat  berjamaah. Misalnya saja terjalinnya kebersamaan, dapat memperoleh informasi dan kajian-kajian yang biasa diadakan usai shalat, menjalin silaturahim dan tentu saja sebuah harapan agar mereka memperoleh banyak kebaikan. Allah pun,  lewat hadits Rasulullah saw, telah menjanjikan bahwa pahala shalat berjamaah itu bernilai 27 kali lipat dari mereka yang shalat sendirian.

Salah satu kekuatan umat Islam adalah tradisi shalat berjama’ah. Lewat berjama’ah itu umat Islam selalu bertemu. Lima waktu dalam sehari semalam,  mereka melaksanakan shalat fardhu, dan dianjurkan berjama’ah. Umpama kegiatan ritual itu dijalankan, maka tidak akan ada masyarakat Islam yang bertempat tinggal di sekitar masjid tidak saling mengenal. Meraka akan menjadi umat yang satu, saling mengenal, menghargai dan bisa bertolong menolong.

Namun sayangnya, konsep yang sedemikian indah itu belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Masjid atau mushala sudah sedemikian banyaknya, tetapi penggunaannya belum maksimal. Jama’ah shalat lima waktu, baru dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, misalnya waktu shalat maghrib dan isya’. Selain itu, biasanya sangat terbatas jumlah jama’ahnya, kecuali pada shalat Jum’at, seminggu sekali.

Rupanya ajaran berjama’ah dalam kegiatan ritual yang sedemikian penting itu belum menjadi kebiasaan.  Apalagi dalam kehidupan sosial yang lebih luas, misalnya dalam berekonomi. Berjama’ah dalam kegiatan ekonomi bisa berbentuk kooperasi. Dalam kooperasi, mereka bersama-sama mengumpulkan modal, membangun usaha bersama, dan juga sekaliguis menjadi pasar bersama. Umpama saja berjama’ah dalam kegiatan ekonomi ini bisa dibangun, umat Islam akan lebih maju lagi. Tetapi lagi-lagi, ternyata tidak mudah diimplementasikan.

Pendidikan berjama’ah yang lebih efektif dilakukan di  lingkungan pesantren. Para santri biasanya diwajibkan  shalat  berjama’ah pada setiap waktu shalat, dan bahkan juga ketika makan,  dan tidur. Para santri menginap bersama dalam   satu tempat. Beberapa pesantren memberlakukan aturan agar para santri selalu makan bersama-sama. Bahkan mereka, diajari hidup mandiri, dengan cara memasak sendiri dan dilakukan secara bersama-sama. Ajaran kebersamaan atau berjama’ah secara langsung diterapkan di pondok pesantren.

Di pesantren, sebagai bagian dari ajaran berjama’ah, para santri menempati kamar yang digunakan secara bersama-sama. Saya pernah menanyakan hal itu kepada  kyai, sebab saya tahu,  setiap kamar di pesantren ditempati oleh sekian banyak santri. Ternyata cara seperti itu disengaja, agar para santri mengenal pribadi teman-temannya secara mendalam. Diterangkan oleh kyai tersebut bahwa manusia itu adalah makhluk unik. Setiap orang atau santri memiliki karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, dengan berkumpul bersama  sejumlah santri, maka artinya  masing-masing  akan mengenal secara mendalam terhadap semua  teman-temannya  itu. Jika seorang santri hidup bersama 10 orang temannya, maka berarti,  ia akan belajar tentang 10 orang yang berbeda-beda itu.       

Kyai tersebut juga menjelaskan bahwa, seorang santri  sebagai calon pemimpin harus memiliki pengetahuan tentang  karakter banyak orang di tengah masyarakat. Kebersamaan di pesantren, baik tatkala shalat bersama, makan bersama dan bahkan menempati tempat tidur bersama, diharapkan mereka dapat mengenal karakteristik  dari banyak teman-temannya yang berbeda-beda karakter itu. Tidak semua orang memahami konsep itu, sehingga menurut penjelasan kyai tersebut,  kadangkala mereka  melihat apa yang dilakukan oleh pesantren sebagai hal yang kurang tepat, dan bahkan dipandang negatif.   

Pendidikan kebersamaan atau berjama’ah  secara intensif di pesantren seperti itu ternyata juga memberikan hasil  yang luar biasa. Para alumni  pesantren biasanya berhasil  membangun kebersamaan yang luar biasa.  Lulusan pesantren Gontor misalnya, sekalipun masing-masing berada di tempat yang berjauhan, saya tahu, masih saling mengenal dalam waktu yang cukup lama. Di antara mereka layaknya  keluarga besar, karena pernah merasa memiliki sejarah hidup yang sama, yaitu di pesantren.

Umpama konsep berjama’ah itu dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak saja dalam kegiatan ritual,menjadi jama’ah masjid misalnya, tetapi juga dalam kegiatan ekonomi, sosial dan bahkan juga politik, maka kehidupan umat Islam akan kokoh. Dengan cara itu, maka di antara umat Islam akan bersatu, sebagaimana digambarkan oleh hadits nabi yang sedemikian indah, yaitu bahwa kehidupan umat Islam bagaikan sebuah bangunan, antara satu bagian dengan bagian lainnya saling memperkukuh. Penderitaan satu kelompok akan dirasakan oleh kelompok lainnya, dan begitu pula sebaliknya.

Sayangnya perasaan bersama atau berjama’ah seperti itu belum berhasil diwujudkan. Umat Islam masih  saling berbeda, sendiri-sendiri, bersaing dalam hal yang tidak perlu, dan bahkan juga konflik pun biasa terjadi. Nilai-nilai Islam dalam berjama’ah belum dipahami dan apalagi dihayati dan dijalankan. Akibatnya, umat Islam menjadi lemah dan tidak memiliki nilai tawar,  sebanding dengan jumlahnya. Bahkan yang mengenaskan, mereka yang miskin dibiarkan miskin, mereka yang menganggur dibiarkan menganggur, dan mereka yang menderita dibiarkan menderita. Perasaan bersama sebagaimana diajarkan dalam Islam ternyata belum berhasil diamalkan. Konsep jama’ah dalam tataran praktek belum  menjadi kekuatan yang sebenarnya. Umat Islam menjadi tertinggal, padahal seharusnya tidak begitu. Wallahu a’lam.   

 


Share |

Email :redaksi@seputarsulawesi.com
Iklan: 0411 (433867)
Silahkan Buka Seputarsulawesi.com di HP anda:
Versi Mobile

Isi Komentar :
Nama Lengkap :
Komentar :
Website :
Kode Keamanan :